Nasionalisme Lingkungan

Foreword

 

The conservation of wild nature is really hard work.  To be successful it demands developing the heart-felt engagement of government, of local people, of business, and of a wider constituency which has the role of providing or at least supporting funding.  It also champions.

 

Edi Purwanto is such a champion.  He is also one of the most thoughtful Indonesians in the field of conservation and one who knows just how hard the work is. Although he has been employed in a variety of capacities since he left university, it has been his tackling of the difficult task of being the Project Manager for the innovative and complex conservation project that has caused him to reflect long and hard on many of the thorny, persistent, intriguing issues which face him on daily basis.  He contemplates the questions, looking between and among them to find appropriate, practical and sustainable ways forward for conserving the special Lambusango forests.  The project is financed by the Global Environment Facility and executed by the Operation Wallacea Trust, and has the potential to influence the way conservation is done elsewhere in Indonesia.  Edi thus has a great deal of responsibility weighing on his shoulders.

 

There are, of course, many books on conservation, most written from viewpoint of biology or social sciences, or written for children or students.  This book is original that is looks at conservation through lens of nationalism and pictures the general public as its target audience.  The book assumes nothing about knowledge or background of the reader, and is written in engaging, unscientific, manner which draws the reader into the material.  It thus has the potential to reach a wide and new audience for the message within it.

 

Pak Edi is to be congratulated on conceptualizing this book and seeing it through to completion. It deserve to be read–especially in SE Sulawesi–and my hope is that people who had not though about the demands and excitement of conservation will be brought into the community for whom this subject is their passion. Who knows what may happen as a result! 

 

 

Dr. Antony Whitten

 

Senior Biodiversity Specialist

Environment and Social Development Sector

East Asia and Pacific Region

The World Bank (MC8-807)

1818 H St NW, Washington DC, 20433, USA

Fax : +1-202-522-1666

Sekapur Sirih

 

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami mengabdi

Padamu negeri kami berbakti

Bagimu negeri jiwa raga kami

 

Alunan syahdu Lagu ’Padamu Negeri’ ciptaan Kusbini, setidaknya hingga awal tahun 70-an masih begitu menyentuh hati, membangkitkan rasa haru dan semangat nasionalisme.  Namun di era globalisasi ini, selain sudah jarang terdengar, lagu ini mungkin tidak lagi  menyentuh nuraini sebagian besar anak bangsa ini.

 

Nasionalisme (nationalism) adalah semangat kepatuhan dan keikhlasan berkorban demi kepentingan (kecintaan terhadap) bangsa dan negara.

 

Di jaman revolusi fisik, semangat nasionalisme bangsa ini telah terbukti mampu menggetarkan dunia. Dengan nasionalisme, nusantara, sebuah negeri yang memiliki 18.110 gugusan pulau besar dan kecil, seluas benua Eropa, luas daratan 192 juta hektar,  memiliki tiga wilayah waktu, dengan garis pantai sepanjang 54.716 km serta kebinekaan yang luar biasa mampu berdiri menjadi sebuah negara kesatuan yang merdeka dan berdaulat. Semangat nasionalisme bangsa yang begitu menggelora telah berhasil meyakinkan dunia, sehingga imperialis Belanda hengkang dari bumi pertiwi. Sebuah pencapaian yang sungguh menakjubkan.

 

Resonansi nasionalisme dan patriotisme bangsa ini bahkan kemudian  mampu membangkitikan semangat bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika, untuk kemudian merdeka mengikuti jejak bangsa Indonesia, sebuah bangsa besar yang dulu amat disegani dan dihormati dunia.

 

Sungguh disesalkan bahwa jiwa nasionalisme bangsa yang begitu perkasa itu ternyata begitu cepat luntur ditelan waktu.

 

Di era pembangunan, dimana kemerdekaan sejatinya harus diisi oleh perjuangan untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat, justru banyak anak bangsa yang hanyut oleh berbagai jalan pintas untuk menggapai pundi-pundi kekayaan dan kemegahan kekuasaan. Demi, mencapai kepentingan itu mereka begitu tega ’menggadaikan’ kekayaan negeri dalam skala yang jauh lebih masif dan fantastis, dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan kaum penjajah di masa tempo doeloe.

 

Dampaknya adalah katastropi (mega-bencana) lingkungan yang membuat sebagian besar bangsa yang hidup di negeri ’zamrud katulistiwa’ ini, alih-alih menuai kejayaan dan kemakmuran, namun justru  menjadi miskin dan semakin tidak berdaya. Perusakan lingkungan negeri bukan hanya mengeroposkan ketahanan nasional, tetapi juga telah merusak citra dan identitas bangsa. Sungguh disayangkan bahwa kemerdekaan yang telah direbut dengan darah dan airmata tidak diikuti oleh nation character building yang kuat dan berkelanjutan. Hampir semua lapisan elit negeri  begitu asyik memikirkan diri dan golongannya. Kepentingan umum, urusan bangsa dan negara, khususnya kelestarian alam dan lingkungan sebuah negeri tidak dipedulikan. Implikasinya, sebagian besar upaya perbaikan yang dilakukan tidak mengakar, kehilangan roh, dan bahkan sering justru  berdampak pada penyimpangan dan kerusakan yang lebih parah.

 

Memahami kondisi ini, penulis memandang perlu adanya sebuah gerakan untuk menyemaikan kembali jiwa dan semangat nasionalisme. Nasionalisme yang relevan di tengah keterpurukan mental, moral dan perilaku bangsa yang berdampak kepada kehancuran alam dan tingginya bencana lingkungan buatan manusia adalah nasionalisme lingkungan.

 

Pembangunan nasionalisme lingkungan adalah sebuah gerakan cinta tanah air yang termanifestasi kepada upaya pemeliharaan kelestarian alam negeri. Hal ini berkaitan erat dengan upaya pembangunan mental, moral dan komitmen anak bangsa terhadap tanah tumpah darahnya. Semangat dan jiwa pemeliharaan alam dan lingkungan (konservasi) harus  tumbuh dari setiap dada manusia Indonesia. Konservasi sebagai mindset pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan harus menjadi way of life yang mampu mewarnai seluruh  kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Seorang aparat negara yang nasionalis lingkungan, tidak akan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) untuk menghancurkan hutan lindung yang berfungsi sebagai perlindung tata air, pengendali  banjir dan erosi. Tidak merusak kawasan konservasi yang berfungsi sebagai pendukung sistem kehidupan serta gudang sumberdaya genetika. Tidak  membabat habis hutan produksi yang masih tersisa demi mempertebal kantong pribadi dan golongannya. Seorang penegak hukum yang nasionalis lingkungan tidak akan membiarkan para dalang illegal logging lolos dari jeratan hukum. Demikian pula seorang tokoh masyarakat desa yang nasionalis lingkungan akan menolak bekerjasama dengan pengusaha hutan nakal untuk menghancurkan lingkungan desanya sendiri. Semua itu mereka lakukan demi menjaga kelestarian lingkungan yang merupakan penopang utama kehidupan serta keberlangsungan negeri yang mereka cintai. Gerakan konservasi, karena itu, adalah sebuah upaya pembangunan jiwa nasionalisme lingkungan!

 

***

 

Alam Indonesia kini sedang menuju kehancuran, berbagai bencana tak henti-hentinya menerpa negeri ini. Saat musim hujan, negeri ini didera luapan air bah, sedangkan di musim kemarau dihempas kekeringan dan kebakaran hutan. Bencana lingkungan yang mestinya merupakan force majeur, sesuatu yang tidak bisa diduga, ironisnya telah berubah menjadi keniscayaan.

 

Yang sungguh memprihatinkan, di saat kondisi alam berada diambang kehancuran yang tak terpulihkan, upaya pelestarian alam dan lingkungan justru menghadapi tantangan yang semakin berat.  Kohesifitas bangsa ini nampaknya telah begitu longgar, berbagai unsur pembentuk bangsa masing-masing begitu sibuk dan asyik memikirkan dirinya sendiri-sendiri. Dampaknya adalah tumburan kepentingan yang mengakibatkan timbulnya mega kerusakan alam dan bencana lingkungan yang luar biasa. Gerakan perusakan nasional yang terjadi secara masif, sangat tidak seimbang dengan upaya perbaikan yang dilakukan dengan setengah hati. Buaian budaya materialisme dan kapitalime yang masuk keseluruh sel kehidupan bangsa telah menimbulkan ’bola-bola liar’ yang membuat bangsa ini kehilangan arah dalam menata alam dan lingkungannya.

 

Menghadapi tantangan yang sedemikian berat, ada dua pertanyaan penting, yaitu ’Masih mungkinkah hutan Indonesia dilestarikan?’, ’Masih adakah ruang bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk membantu menyelamatkan sumberdaya hutan yang masih tersisa?’

 

Pertanyaan ini muncul karena minimnya  success story program konservasi di negeri ini. Sudah begitu banyak program konservasi yang diinisiasi oleh pemerintah maupun LSM, investasi skala besar bahkan telah dilakukan di berbagai wilayah, berbagai pendekatan baru telah diuji-cobakan. Namun sebagian (besar) hasilnya kurang menggembirakan, partisipasi publik secara nyata dan berkelanjutan umumnya kurang berhasil untuk digalang. Sementara itu, kebijakan konservasi, praktik konservasi di tingkat lapangan menjadi semakin kehilangan orientasi dan fokusnya.  Conservation deadlock menjadi ancaman yang paling besar di masa depan (Wiratno, 2006).

 

LSM Operation Wallacea Trust (Opwall Trust) hadir dengan didasari oleh dua keyakinan utama, yaitu sebagian hutan Indonesia masih mungkin diselamatkan dari kehancuran, kemudian kehadiran LSM masih dibutuhkan untuk membangun gerakan nasionalisme lingkungan manusia Indonesia.

 

Pendirian LSM Opwall Trust difasilitasi oleh Operation Wallacea Ltd, sebuah lembaga yang memfasilitasi kegiatan penelitian ilmiah para ilmuwan Inggris (UK) di Hutan Lambusango dan Taman Nasional Wakatobi. LSM Opwall Trust bergerak dalam pembangunan jiwa dan semangat konservasi sumberdaya hayati di Zona  (Bioregion) Wallacea baik darat maupun lautan. Untuk tiga tahun pertama, tekanan diberikan pada upaya membangun gerakan konservasi Hutan Lambusango (± 65.000 ha) yang terletak di jantung Pulau Buton, Propinsi Sulawesi Tenggara.

 

Hutan Lambusango terletak di Kabupaten Buton (Kecamatan Kapontori, Lasalimu, Lasalimu Selatan, Wolowa, Siontapina dan Pasarwajo). Berdasarkan statusnya dapat dibedakan menjadi tiga; (1) Suaka Margasatwa (SM) Lambusango (± 28.510 ha); (2) Cagar Alam (CA) Kakenauwe (± 810 ha). Keduanya saat ini dibawah pengelolaan Departemen Kehutanan (Balai Konservasi Sumberdaya Hutan, Sulawesi Tenggara/BKSDA); (3) Kawasan hutan lindung dan produksi yang berada di sekitar kawasan konservasi (± 35.000 ha) yang dikelola oleh Pemerintah daerah Kabupaten Buton (Dinas Kehutanan Kabupaten Buton/Dishut).

 

Pulau Buton yang terletak di Zona Wallacea dikenal memiliki keragaman hayati yang tinggi. Berbeda dengan Pulau Sulawesi besar yang telah kehilangan sekitar 30 % dari hutan-hutan alamnya, hingga saat ini Pulau Buton masih memiliki hutan alam yang masih utuh. Letak Pulau Buton yang relatif terisolasi dengan topografi yang bergelombang telah memberikan rahmat tersendiri bagi kelestartian hutannya. 

 

Program Konservasi Hutan Lambusango (PKHL) yang difasilitasi oleh LSM Opwall Trust dan mendapat sumber pendanan dari Global Environment Facility telah mulai beroperasi sejak bulan Juni 2005.  PKHL memiliki tujuh komponen utama, yaitu: (1) Perbaikan tata pengelolaan hutan, (2) Pengembangan bisnis pedesaan, (3) Kolaborasi Pengamanan Hutan, (4) Pendidikan dan Penyadaran, (5) Peningkatan Kapasitas, (6) Monitoring keragaman hayati dan sosial ekonomi, (7) Promosi.  Uraian singkat dari setiap komponen dapat diperiksa di Lampiran 1.

 

***

Buku ini merupakan bunga rampai opini yang dimuat di Buletin Bulanan Lambusango Lestari edisi November 2005– Oktober 2006. Seluruh opini yang ditulis dalam buletin ini memeliki satu nafas, yaitu upaya penyadaran terhadap pentingnya mindset konservasi atau pembangunan nasionalisme lingkungan. Penerbitan bunga rampai ini dimaksudkan agar opini konservasi di buletin tersebut bisa dinikmati secara menyeluruh, serta dapat menjangkau kalangan pembaca yang lebih luas. Tulisan ini sebagian besar terinspirasi oleh pengalaman lapangan penulis dalam mengelola Program Konservasi Hutan Lambusango, Operation Wallacea Trust.

 

Bunga rampai ini dikelompokan kedalam empat bagian. Bagian pertama menguraikan semangat dan jiwa nasionalisme lingkungan, serta berbagai bentuk penerapannya dalam  geo-politik lokal-nasional. Bagian kedua menawarkan strategi penyemaian  nilai-nilai konservasi pada masyarakat yang termarjinalisasi, baik secara sosial, ekonomi dan budaya. Masyarakat membutuhkan langkah nyata untuk memperbaiki keterpurukan ekonomi dan kegegaran  sosial dan budaya. Gerakan konservasi, karena itu,  harus mampu menciptakan enabling condition, yaitu kondisi pemungkin yang membuat masyarakat berdaya untuk melakukan konservasi. Bagian ketiga membahas perlunya melindungi satwa nusantara, sebagai sumber kekayaan hayati, kebanggaan nasional dan sekaligus merupakan bagian penting bagi upaya pelestarian ekosistem hutan yang masih tersisa. Bagian terakhir menyuguhkan success story model bisnis ekowisata di Hutan Lambusango yang dirintis dan  dikembangkan oleh Operation Wallacea Ltd.  Ekowisata merupakan jenis bisnis yang paling kondusif bagi pelestarian hutan yang masih tersisa di negeri ini. Model ekowisata ala Operation Wallacea Ltd ini perlu untuk dikembangkan di wilayah lain di Indonesia. Bahkan Operation Wallacea Ltd, berdasarkan pengalaman pengusahaan ekowisata di Buton, telah berhasil membangun bisnis serupa di berbagai belahan dunia.  

 

Memperhatikan bahwa tulisan ini awalnya secara khusus ditujukan kepada masyarakat pemangku kepentingan Hutan Lambusango yang memiliki keragaman tingkat pendidikan dan latar belakang keilmuan, maka penulisannya dibuat populer, diharapkan cukup komunikatif dan mampu menyapa berbagai lapisan masyarakat. Sebagian artikel ini juga ditulis dalam konteks lokal, namun diharapkan berbagai pemikiran dan alternatif solusi yang diberikan, dengan berbagai penyesuaian, dapat diaplikasikan pada skala regional dan bahkan nasional.

 

Akhirnya penulis berharap buku tipis ini dapat memberikan inspirasi terhadap bangkitnya jiwa dan semangat nasionalisme lingkungan yang sangat dibutuhkan bagi kebangkitan bangsa dan negeri tercinta ini.

        

Bumi Anoa, awal Januari 2007

 

Penulis

 

Edi Purwanto

 

 

 

 

Responses

  1. saya sangat tertarik untuk ikut serta dlm kegiatan pengembangan hutan kemasyarakatan. Bagaimana caranya?

  2. sekali kalimat terlontar dari mulut anak bangsa yang berjiwa nasionalis sejati. maka tak akan satupun niat untuk mengingkari atau mengkhianati.
    salam nasionalis sejati…….
    sejuta arti dan makna segala hasrat akan menjadi nampak nyata bila kita mau menjadi teladan yang nyata. ayo..pak….. di teruskan meski tak lagi ada kalimat yang di baca…dan suara di dengar namun perjuangan tidak boleh berhenti di tengah jalan. bukankah seperti itu manusia agar tak mendapat gelar munafik dari penciptanya..
    mohon di jelaskan apa yang di maksut gerakan…? dan apa yang di maksut Nasionalis sejati itu…? bila benar … maka saya percaya Bpk manusia yang terpanggil , bukan sekedar terbelenggu ilmu pengertian saja. kita mulai hari ini bila ingin berjuang untuk bangsa yang sebenarnya.
    tidak ada kata kebenaran selama manusia dalam menyampaikan kebenaranya masih menyalahkan orang lain, biarlah negeri ini terjadi seperti ini. minimal sampai hari ini,
    namun kebenaran tekad yang suci tak akan berhenti meski tak satupun saudara sendiri mau menemani.
    salam kebenaran…

  3. Ass,wrwb. Salam Damai serta bersih lingkungan!
    beberapa tahun terakhir ini pohon damar diwilayah krui semakin sedikir. butuh waktu 30 tahun untuk tumbuh kembali. apakah ada lsm diwilayah krui yang benar proaktif untuk menyelamatkan pohon kebangaan pesisir. lama – lama habis perlu diperhatikan bersama !

    Siapa lagi kalau bukan kita !!!!!

  4. mas Edy Purwanto,
    Terimakasih tulisannya. Sangat bermanfaat.
    Saya tertarik untuk mencari referensi hal hal yang terkait dengan nasionalisme dan konservasi. Fokus perhatian saya lebih pada persoalan bagaimana konservasi itu memang kegiatan yang bertujuan untuk membangun dan melindungi serta memajukan bangsa ini. Bukan sebagai upaya yang anti development.
    Banyak konsep konservasi dan hal berbau lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat kita yang masih butuh banyak hal. Tetapi aliran konservasi tertentu dan kepentingan tertentu justru membelenggu masyarakat kita untuk berkembang sejajar dengan bangsa bangas maju lain di dunia.
    Congratulation,
    Salam,
    NA

  5. Terimakasih atas uraianya. sangat membantu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: